Selasa, 22 Februari 2011

PENDEKATAN TEORI PSIKOLOGI LINGKUNGAN

1. TEORI PSIKOLOGI LINGKUNGAN
a.       Arousal Theory (Teori Arousal)
Arousal memiliki arti harfiah yang berarti pembangkit. Pembangkit disini maknanya adalah gairah atau emosi individu untuk mengerjakan sesuatu. Misalnya saja saat kita kuliah pada mata pelajaran yang tidak menyenangkan, atau materi yang tidak kita suka. Maka secara otomatis kita akan mengantuk atau merasa lelah lebih cepat. Hal itu dapat diartikan bahwa kita tidak memiliki arousal untuk mata kuliah tersebut. Sedangkan kaitannya dengan Psikologi Lingkungan adalah, saat arousal seseorang itu rendah maka kinerja dari orang tersebut menurun, dan sebaliknya saat makin tinggi tingkat arousal seseorang maka semakin tinggi pula konerja nya.
b.      Teori Beban Lingkungan
Asumsi dari teori ini adalah, bahwa manusia memiliki pemrosesan informasi yang terbatas. Menurut Cohen (Fisher, 1985; dalam Veitch & Arkkelin, 1995), asumsi tersebut adlaah: 1. Bahwa manusia memiliki kapasitas pemrosesan informasi yang terbatas. 2. Jumlah Atensi yang diberikan orang tidak konstan, namun lebih kepada kesesuaian dengan kebutuhan. 3. Ketika informasi yang masuk berlebih, maka perhatian tidak akan bekerja secara maksimal. 4. Stimulus yang masuk akan dipantau, jika stimulus tersebut memiliki makna dan diperhatikan maka aka nada pemrosesan lebih jauh, namun jika tidak akan langsung dibuang atau tidak ada pemrosesan lebih lanjut.
Lalu jika informasi yang masuk lebih besar dari kapasitas maka akan terjadi yang dinamakan dengan pemusatan perhatian, contohnya saja saat kita sedang menjalani ujian tengah semester, kita akan lebih focus mengerjakan soal ujian dan lebih cenderung mengabaikan keadaan sekitar sampai soal yang kita kerjakan selesai. 
c.       Teori Hambatan Perilaku
Asumsi dari teori ini adalah stimulasi yang berlebihan menyebabkan terjadinya penghambatan dalam memproses informasi. Sehingga berakibat hilangnya control dari individu terhadap situasi.
Menurut Brehm dan Brehm (dalam Veitch & Arkkelin, 1995), awal saat kita merasakan hilang kendali atau control terhadap lingkungan, maka mula-mula kita akan merasa tak nyaman dan berusaha untuk menekankan kembali fungsi kendali kita. Hal ini disebut dengan fenomena psychological reactance.

d.      Teori Tingkat Adaptasi
Teori ini memiliki kemiripan dengan teori beban lingkungan, yang dimana stimulus yang tinggi maupun rendah memiliki dampak negative bagi perilaku individu. Namun nilai lain dari teori ini adalah pengenalan tingkat adaptasi pada individu, misalnya tingkat arousal atau adaptasi individu terbiasa dengan keadaan lingkungan atau tingkat pengharapan suatu lingkungan tertentu.
Menurut Wohwill (dalam Fisher, 1984) membagi 3 dimensi hubungan perilaku lingkungan: 1. Intensitas, yang berhubungan dengan kesesakan atau justru kelenggangan yang dapat mempengaruhi psikologis individu. 2. Keanekaragaman, berkaitan dengan banyaknya informasi yang masuk atau justru sedkitnya informasi yang masuk dan tak sebanding dengan kapasitas pemrosesan informasi. Jika berlebih maka dapat terjadi yang dinamakanoverload dan jika terlalu sedikit maka dapat terjadi kemonotonan. 3. Keterpolaan, berkaitan dengan keteraturan suatu pola sehingga dapat atau tidak dapatnya diprediksi oleh individu. Semakin teratur suatu pola semakin mudah dikenali oleh individu, dan begitupun sebaliknya.

e.       Teori Stress Lingkungan
Teori ini lebih menekankan pada peran fisiologi, kognisi maupun emosi dalam usaha manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Stress dapat terjadi saat respon stress atau beban melebihi kapasitas tingkat optimal. Hal yang dapat membuat individu menjadi stress disebut dengan stressor. Namun individu memiliki hal yang disebut dengan coping. Jika sumber-sumber coping tersebut habis maka dapat terjadi exhausted atau yang biasa kita sebut dengan kelelahan (Selye dalam Veitch & Arkkelin, 1995).

2. METODE PENELITIAN PSIKOLOGI LINGKUNGAN

a.       Studi Korelasi
Seorang peneliti dapat menggunakan variasi dari metode korelasi, jika seorang peneliti berminat untuk memastikan tingkat validitas eksternal yang tinggi (Veitch & Arkkelin, 1995). Studi ini menyediakan informasi tentang hubungan-hubungan atau peristiwa yang terjadi di alam nyata tanpa dipengaruhi oleh pengumpulan data.
Namun sesempurna apapun suatu studi juga memiliki kelemahan. Kelemahan dari studi kasus adalah lemahnya validitas internal, berkebalikan dengan studi laboratorium yang memiliki tingkat validitas internal yang lebih tinggi, namun memliki validitas eksternal yang lebih rendah jika dibandingkan dengan studi korelasi.
b.      Eksperiment Laboratorium
Jika peneliti tertarik untuk memastikan tingkat validitas internal yang tinggi, maka studi inilah yang sangat tepat (Veitch & Arkkelin, 1995). Metode ini member kebebasan kepada peneliti untuk melakuakn manipulasi secara sistematik dengan tujuan mengurangi variable-variabel yang mengganggu. Metode ini mengambil subjeknya secara random, yang berarti semua subjek memiliki kesempatan yang sama dalam semua keadaan eksperimen. Namun kelemahan dari metode ini salah satunya adalah hasil yang diperoleh di laboratorium belum pasti dapat diterpkan di luar laboratorium.
c.       Eksperimen Lapangan
Metode ini adalah metode penengah antara Korekasi dengan Eksperiment Laboratorium. Asumsinya adalah jika peneliti ingin menyeimbangkan validitas internal yang didapat dalam eksperiment laboratorium dengan validitas eksternal yang didapat dari studi korelasi. Dalam metode ini peneliti tetap melakukan manipulasi sitematis, hanya bedanya peneliti juga harus member perhatian pada variable eksternal dalam suatu seting tertentu
d.      Teknik-Teknik Pengukuran
Beberapa disajikan beberapa contoh tekhnik pengukuran dengan keunggulannya masing-masing, antara lain mudah dalam scoring, administrasi maupun dalam proses pembuatannya. Antara lain:Self-report,Kuisioner,Wawancara atau Interview,Skala Penilaian

Daftar Pustaka

Avin Fadilla Helmy, Beberapa Teori Psikologi Lingkungan,  Diakses tanggal 21 Februari 2011,http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf
Avin Fadilla Helmy, Beberapa Teori Psikologi Lingkungan, Diakses tanggal 21 Februari 2011, http://pdfcast.org/pdf/beberapa-teori-psikologi-lingkungan
Unknown, Bab 2 Pendekatan Teori Dan Metode Penelitian Psikologi Lingkungan,  Diakses tanggal 21 Februari 2011,http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peng_psikologi_lingkungan/bab2-pendekatan_teori_dan_metode_penelitian_psikologi_lingkungan.pdf


Selasa, 15 Februari 2011

“Pengantar Psikologi Lingkungan”

“Pengantar Psikologi Lingkungan”


Ø     Latar Belakang Sejarah Psikologi Lingkungan
Kurt Lewin yang pertama kali memperkenalkan Field Theory (Teori Medan) yang merupakan salah satu langkah awal dari teori yang mempertimbangkan interaksi antara lingkungan dengan manusia. Lewin juga menhgatakan bahwa tingkah laku adalah fungsi dari kepribadian dan lingkungan, sehingga dapat diformulasikan menjadi :
            T L = f(P.L)
            TL  = tingkah laku
            f      = fungsi
            P     = pribadi
            L     = lingkungan

Berdasarkan rumusan tersebut, Lewin mengajukan adanya kekuatan-kekuatan yang terjadi selama interaksi antara manusia dan lingkungan. Masing-masing komponen tersebut bergerak suatu kekuatan-kekuatan yang terjadi pada medan interaksi, yaitu daya tarik dan daya mendekat dan daya tolak dan daya menjauh.
Sebelum kita kenal istilah psikologi lingkungan yang sudah baku, semula Lewin memberikan istilah ekologi psikologi. Lalu pada tahun 1947, Roger Barker dan Herbert Wright memperkenalkan istilah setting perilaku untuk suatu unit ekologi kecil yang melingkupi perilaku manusia sehari-hari. Istilah psikologi arsitektur pertama kali diperkenalkan ketika diadakan konferensi pertama di Utah dan jurnal profesional pertama yang diterbitkan pada akhir tahun 1960-an banyak menggunakan istilah lingkungan dan perilaku. Baru pada tahun 1968, Harold Proshansky dan William Ittelson memperkenalkan program tingkat doktoral yang pertama dalam bidan psikologi lingkungan di CNUY (City University of New York) (Gifford, 1987).

Ø         Definisi Psikologi Lingkungan
Psikologi lingkungan adalah ilmu kejiwaan yang mempelajari perilaku manusia berdasarkan pengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya, baik lingkungan sosial, lingkungan binaan ataupun lingkungan alam. Dalam psikologi lingkungan juga dipelajari mengenai kebudayaan dan kearifan lokal suatu tempat dalam memandang alam semesta yang memengaruhi sikap dan mental manusia.
Apabila kebudayaan dan kearifan lokal kita pahami sebagaiperjuangan manusia untuk mempertinggi kualitas hidupnya, maka mawas diri akan menjadi inti pokok dari pelajaran psikologi lingkungan. Soedjatmoko, seorang ahli sosiologi, mengungkapkan harapannya untuk mengangkat mawas diri dari tingkat moralisme semata-mata ke tingkat pengertian psikologis dan historis dan mengenai perilaku manusia. Dalam hal ini beliau memberikan pengertian tentang moralisme dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh psikologis historis suatu lingkungan, tempat orang tersebut bersosialisasi dengan masyarakat binaannya.
Sementara Hardjowirogo, seorang antropolog, menulis bahwa tidak ada jaminan akan keefektifan mawas diri. Ungkapan itu telah surut menjadi sekadar penghias buah bibir. Perubahan zaman telah membawa pula fungsi mawas diri menjadi pengucapan belaka.
Sebagai contoh, tengok saja yang terjadi di zaman sekarang. Kini, banyak orang yang tinggal di dalam lingkungan baik dan religius, namun perilakunya sangat tidak mencerminkan lingkungan tempat dia tinggal. Meskipun orang tersebut sangat kenal dengan moral yang baik, belum tentu orang tersebut akan berlaku baik. Karena ternyata lingkungan sosial di zaman sekarang tidak bisa membentuk pribadi seseorang. Seseorang bisa saja tinggal dalam lingkungan pesantren yang selalu diajarkan akidah dan akhlak yang baik. Namun, sifat dasar manusia selalu penasaran dan ingin mencari kebenaran sendiri dengan mencari perbandingan sendiri.

Ø     Lingkup Psikologi Lingkungan
Berdasarkan objek yang dipelajarinya, psikologi dapatdibedakan atas:
٭      Psikologi yang mempelajari manusia
٭      Psikologi yang mempelajari hewan.
Psikologi Manusia
Cakupan yang cukup luas, menyebabkan dilakukannya pengelompokkan dalam psikologi manusia.
Atas dasar tujuannya, dibedakan atas:
§  Psikologi Teoritis
§  Psikologi Praktis
Atas dasar objek yang dipelajarinya, dibedakan atas:
§  Psikologi Umum
§         Psikologi Khusus

Ø     Ambient condition & Architectural Features

Dua bentuk kualitas lingkup yang meliputi Ambient Condition dan Architectural Features sebagaimana yang telah di bahas di muka,berikut ini akan dibahas kedua kualitas lingkungan tersebut secara mendalam.

A.    Ambient condition
Berbicara mengenai kualitas fisik (ambient condition).Rahardjani (1987) dan Ancok (1988) menyajikan beberapa kualitas fisik yang memperngaruhi perilaku yaitu:kebisingan,temperatur,kualitas udara,pencahayaan,dan warna.
      Dari faktor volume dikatakan bahwa suara yang makin keras akan dirasakan mengganggu.Suara kendaraan di jalan raya dari jarak 17 meter (70db) sudah mulai mengganggu pembicaraan melalui telepon.
      Faktor kendali amat terkait dengan perkiraan.jika kita menyetel musik cadas atau menyalakan gergaji mesin,kita tidak merasakan sebagai kebisingan karena kita dapat mengaturnya sekehendak kita kapan suara itu diperlukan.Akan tetapi bagi orang lain yang tidak menginginkannya,hal itu merupakan kebisingan yang amat mengganggu.
      Suhu dan Polusi udara.Menurut Holahan(1982) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat menimbulkan dua efek yaitu efek kesehatan dan efek perilaku.
      Pencahayaan dan Warna.Menurut fisher dkk.(1984) terdapat banyak efek pencahayaan yang berkaitan dengan perilaku.Pada dasarnya,cahaya dapat mempengaruhi kinerja,dengan cara mempermudah atau mempersulit pengelihatan ketika kita mengerjakan sesuatu.Pada satu sisi,tidak adanya cahaya sama sekali akan membuat kita tidak mampu mengerjakan suatu tugas karena kita tidak dapat membacanya.
      Pencahayaan dan warna di dalam ruangan.intensitas pencahayaan dan preferensi warna merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan,meski di dalam preferensi warna seorang lebih banyak dipengaruhi oleh subjektifitas.Preferensi warna tersebut barangkali akan menjadi lebih baik apabila disertai dengan adanya pemahaman terhadapsituasi yang lebih mendalam terhadap jenis ruangan apa yang akan dirancang.

B.     Architectural features
Didalam membicarakan erchitectural features,maka diantara beberapa hal yang termasuk didalamnya tidak akan dibicarakan semua.Dua unsur yang akan dibahas disini adalah unsur estetika dan pengaruh perabot.
Estetika.Pengetahuan mengenai estetika memberi perhatian kepada dua hal. Pertama,indentifikasi dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dari suatu objek atau suatu proses keindahan atau paling tidak suatu pengalaman yang menyenangkan.Kedua,untuk mengetahui kemampuan manusia untuk menciptakan dan menikmati karya yang menunjukan estetika.
Perabot.Perabot,pengaturannya dan aspek-aspek lain dari lingkungan ruang dalam merupakan salah satu penentu yang penting.Pengaturan perabotan dalam ruang dapat pula mempengaruhicara orang mempersepsikan ruangan tesebut.Beberapa penelitian bertujuan semata untuk memperkuat apa yang selama ini kita ketahui atau perkirakan keberadaannya. Misalnya,Imamoglu (dalam heimstra dan Mcfarling,1978;fisher dkk,1984) menemukan bahwa ruangan yang kosong dipersepsikan lebih besar dari pada ruangan berperabot.
Pengaturan perabot dapat digunakan untuk membantu mengatur perencanaan tata ruang arsitektur suatu seting. Pada kebanyakan konteks lingkungan,dinding,lokasi pintu ,dan sebagainya sudah ditetapkan dan bagian-bagian ini sulit untuk dipindah-pindahkan.Sampai batas-batas tertentu elemen-elemen ini memang membentuk ruangan didalam sebuah bangunan.


                                                           Daftar Pustaka                    

         Artikel. Diakses pada tanggal 14 Februari 2011, dari http://www.anneahira.com/psikologi-lingkungan.html.

Artikel. Diakses pada tanggal 15 Februari

Artikel. Diakses pada tanggal 15 Februari